Langsung ke isi
Cari
Finance

Beli SBN Rp10 Juta, Berapa Kupon Bersih per Bulan?

Hitung kupon SBN Rp10 juta setelah pajak dengan rumus sederhana, tabel simulasi, dan contoh SBR015T2. Bedakan kupon bulanan, biaya, dan pokok.

Beli SBN Rp10 Juta, Berapa Kupon Bersih per Bulan?
Ilustrasi editorial dibuat dengan AI untuk Reviewgan; bukan dokumentasi transaksi atau tampilan aplikasi investasi nyata.

Dengan asumsi kupon 6% per tahun, nominal SBN Rp10 juta menghasilkan Rp50.000 kotor per bulan penuh. Setelah pajak kupon 10%, sisanya Rp45.000 sebelum biaya layanan yang mungkin berlaku. Angka berubah jika tingkat kupon, periode perhitungan, atau nominal kepemilikannya berbeda.

Yang sering membingungkan adalah mencampur tiga angka: modal yang ditempatkan, persentase kupon tahunan, dan uang yang diterima bulanan. Kita akan memisahkannya satu per satu. Setelah tahu asal setiap angka, kamu bisa mengulang perhitungannya untuk nominal lain.

Artikel ini merupakan bagian kedua seri SBN Reviewgan. Jika istilah pokok dan kupon masih terasa asing, mulai dari panduan SBN ritel untuk pemula. Simulasi utama berikut menggunakan tingkat kupon rekaan 6%, kemudian dipisahkan dari contoh produk aktual SBR015T2.

Tentukan dulu: angka apa yang ingin dihitung?

Ada tiga hasil yang berbeda. Kupon kotor adalah hasil sebelum pajak. Kupon setelah pajak adalah kupon kotor dikurangi pajak kupon. Uang bersih setelah seluruh biaya juga memperhitungkan biaya yang memang dikenakan oleh penyedia layananmu.

Dalam artikel ini, sebutan “setelah pajak” belum memasukkan biaya layanan. Dengan membedakannya, kamu dapat mencocokkan simulasi dengan rekening koran tanpa menyangka semua selisih merupakan kesalahan pembayaran.

Tarif 10% yang digunakan mengikuti ketentuan PPh final atas bunga obligasi untuk wajib pajak dalam negeri sebagaimana dijelaskan DJP. Simulasi ditujukan untuk investor individu dalam negeri; keadaan perpajakan yang berbeda perlu diperiksa tersendiri. Penjelasan DJP mengenai pajak obligasi.

Infografis simulasi kupon SBN Rp10 juta pada asumsi 6 persen per tahun: Rp50.000 kotor, Rp5.000 pajak, Rp45.000 setelah pajak
Simulasi bulan penuh: nominal Rp10 juta, kupon asumsi 6% per tahun, dan pajak kupon 10%. Hasil Rp45.000 belum memperhitungkan biaya layanan. Ketuk gambar untuk membuka ukuran penuh.

Hitungan Rp10 juta dengan asumsi kupon 6%

Siapkan empat data: nominal Rp10.000.000, kupon 6% per tahun, satu periode bulanan penuh, dan pajak kupon 10%. Kita mengasumsikan pembelian pada nilai nominal serta tidak memasukkan biaya layanan. Ini contoh matematika, bukan janji hasil semua SBN.

  1. Hitung kupon kotor tahunan. Rp10.000.000 × 6% = Rp600.000.
  2. Ubah menjadi satu bulan penuh. Rp600.000 ÷ 12 = Rp50.000.
  3. Hitung pajak atas kupon. Rp50.000 × 10% = Rp5.000.
  4. Kurangi pajak. Rp50.000 − Rp5.000 = Rp45.000.

Rumus singkatnya: nominal × kupon tahunan ÷ 12 × (1 − tarif pajak). Dalam bentuk desimal, tekan 10.000.000 × 0,06 ÷ 12 × 0,90 di kalkulator. Hasilnya Rp45.000.

Jika hasil setelah pajak itu sama selama 12 bulan penuh, totalnya Rp540.000. Namun, jangan langsung mengalikan angka bulanan dengan tenor produk untuk menaksir hasil persis sampai jatuh tempo. Periode pertama, periode terakhir, dan perubahan tingkat kupon pada produk mengambang perlu diperhitungkan sesuai seri.

Pajak kupon tidak memotong 10% dari pokok

Pada simulasi tadi, dasar pajaknya adalah kupon Rp50.000, sehingga pajaknya Rp5.000. Bukan 10% dari Rp10 juta. Pokok tidak berkurang Rp1 juta hanya karena pembayaran kupon dikenai pajak tersebut.

Bayangkan dua kolom dalam catatanmu. Kolom pertama berisi nominal kepemilikan Rp10 juta. Kolom kedua berisi aliran kupon setelah pajak Rp45 ribu per bulan penuh. Kolom kedua boleh bertambah dari pembayaran berkala, sementara kolom pertama tetap menjadi catatan nominal yang dimiliki selama belum dijual atau dilunasi.

Jika kupon kamu belanjakan, jumlah nominal SBN tidak otomatis berkurang. Jika kamu menyimpannya di rekening, jumlah unit SBN juga tidak otomatis bertambah. Untuk menambah kepemilikan, diperlukan transaksi investasi tersendiri sesuai produk yang tersedia.

Tabel untuk beberapa nominal investasi

Seluruh baris menggunakan asumsi kupon 6% per tahun, pajak 10%, dan bulan penuh. Biaya belum dihitung. Tingkat 6% tidak dimaksudkan sebagai kupon produk yang sedang ditawarkan.

Nominal Kotor per bulan Pajak kupon Setelah pajak
Rp1 juta Rp5.000 Rp500 Rp4.500
Rp5 juta Rp25.000 Rp2.500 Rp22.500
Rp10 juta Rp50.000 Rp5.000 Rp45.000
Rp25 juta Rp125.000 Rp12.500 Rp112.500
Rp50 juta Rp250.000 Rp25.000 Rp225.000
Rp100 juta Rp500.000 Rp50.000 Rp450.000

Pola hitungannya sebanding: nominal dua kali lebih besar menghasilkan kupon dua kali lebih besar jika asumsi lainnya sama. Namun, tabel ini belum menjawab apakah penempatan dananya sesuai kebutuhanmu. Persoalan kapan pokok dapat kembali tetap harus diperiksa terpisah.

Contoh aktual: SBR015T2 pada kupon minimal 6,75%

Memorandum SBR015T2 mencantumkan kupon minimal 6,75% per tahun. Untuk kepemilikan Rp10 juta, hitungan satu bulan penuh pada tingkat tersebut adalah Rp56.250 kotor, pajak Rp5.625, dan Rp50.625 setelah pajak, sebelum biaya layanan. Contoh itu juga tercantum dalam memorandum. Memorandum SBR015T2, bagian biaya dan perpajakan.

Jadi, Rp45 ribu pada simulasi awal dan Rp50.625 pada contoh ini tidak bertentangan. Tingkat kupon yang dimasukkan berbeda. SBR015T2 memakai mekanisme mengambang dengan batas minimal; gunakan tingkat yang berlaku untuk periode yang sedang dihitung, bukan menganggap seluruh produk selalu memberi 6%.

Per pemeriksaan 20 Oktober 2026, masa penawaran seri tersebut dijadwalkan berakhir 22 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB, dengan pemesanan bergantung pada kuota. Setelah penawaran selesai, informasi ini tetap berguna sebagai contoh perhitungan, tetapi bukan petunjuk bahwa produk masih tersedia untuk dipesan. Ringkasan produk SBR015T2 dari BTN.

Mengapa pembayaran pertama bisa berbeda?

Periode pertama belum tentu sama panjang dengan satu bulan biasa. Dalam dokumen seri, kamu dapat menemukan istilah short coupon untuk periode pendek atau long coupon untuk periode lebih panjang. Yang menentukan adalah jadwal dan formula pada dokumen produk, bukan perkiraan satu bulan sejak tombol beli ditekan.

Sebagai contoh konkret, memorandum SBR015T2 menyebut pembayaran pertama 10 Desember 2026 sebagai long coupon, sebesar Rp7.984 kotor per unit Rp1 juta. Untuk 10 unit, jumlah kotornya Rp79.840. Dengan pajak 10%, perhitungan sederhananya menjadi Rp71.856 sebelum biaya. Pembayaran pertama ini tidak sama dengan kupon bulan penuh Rp50.625 setelah pajak.

Untuk seri lain, jangan menyalin tanggal dan angka contoh tersebut. Periksa periode, jumlah unit, aturan pembulatan, dan ketentuan hari kerja. Jika ada selisih kecil dengan hitungan kalkulator, cocokkan mekanisme per unit yang dipakai dalam memorandum serta rincian pembayaran dari mitra.

Biaya layanan dan pembelian di pasar sekunder

Biaya rekening, penyimpanan surat berharga, atau transfer dapat berbeda menurut layanan. Tanyakan komponen yang berlaku serta frekuensi pemotongannya. Biaya yang dipungut tahunan tidak harus muncul sebagai potongan yang sama pada setiap pembayaran kupon.

Misalkan biaya layanan hipotetis Rp12.000 setahun. Jika dibagi rata untuk perencanaan, beban ekuivalennya Rp1.000 per bulan. Simulasi Rp45.000 setelah pajak tadi menjadi Rp44.000 per bulan secara ekuivalen setelah biaya tersebut. Ini hanya ilustrasi; bukan tarif bank tertentu atau jadwal potongan aktual.

Jika membeli jenis SBN yang diperdagangkan pada harga berbeda dari 100% nominal, bedakan dana yang dibayarkan dari nominal kepemilikan. Kupon dihitung berdasarkan nominal, sedangkan hasil investasi terhadap uang yang keluar juga dipengaruhi harga beli, bunga berjalan, biaya, dan hasil penjualan atau pelunasan.

Gunakan kupon untuk rencana yang realistis

Untuk tujuan pemasukan Rp1 juta per bulan setelah pajak, asumsi 6% tadi menghasilkan kebutuhan nominal teoritis sekitar Rp222,22 juta sebelum biaya. Itu berasal dari Rp1.000.000 × 12 ÷ (6% × 90%). Angka transaksi nyata harus mengikuti kelipatan produk. Perhitungan ini membantu memahami skala modal, bukan anjuran menempatkan jumlah tersebut.

Selain besarnya hasil, periksa kapan modal diperlukan. Kupon bulanan tidak membuat seluruh pokok bisa ditarik sewaktu-waktu. Lanjutkan ke tiga jalur pencairan SBN sebelum menyamakan kupon berkala dengan fleksibilitas tabungan.

Pertanyaan yang sering muncul

Apakah hasil Rp45 ribu berlaku untuk semua SBN Rp10 juta?

Tidak. Itu hasil asumsi kupon 6%, pajak 10%, serta bulan penuh sebelum biaya. Ganti tingkat dan periode sesuai produk.

Apakah kupon langsung menambah unit investasi?

Pembayaran kupon tidak otomatis menjadi pembelian unit baru. Catat kupon di rekening dana dan kepemilikan surat berharga secara terpisah.

Sumber dan metode

Diperiksa 20 Oktober 2026. Dasar pajak mengacu pada penjelasan DJP tentang PP Nomor 91 Tahun 2021. Contoh aktual mengacu pada memorandum SBR015T2 melalui BNI, terutama halaman 11–13, serta ringkasan produk BTN. Tabel 6%, biaya Rp12 ribu, dan target pemasukan merupakan simulasi aritmetika Reviewgan. Hasil simulasi belum memperhitungkan keadaan pajak khusus, biaya aktual, atau harga pasar sekunder.

Diskusi & tanggapan (0)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *