Floating with floor berarti tingkat kupon mengambang mengikuti formula produk, dengan batas minimal yang disebut floor. Tingkatnya bisa naik dan bisa turun dari periode sebelumnya, tetapi tidak melewati batas bawah sesuai ketentuannya. Perubahan mengikuti jadwal penyesuaian, bukan selalu langsung pada hari suku bunga acuan berubah.
Misalkan sebuah tingkat kupon pernah naik menjadi 7%. Ketika kemudian turun menjadi 6%, apakah aturannya dilanggar? Belum tentu. Jika batas minimal produk itu 6%, penurunan tadi masih sesuai dengan floor. Angka tertinggi yang pernah dicapai tidak otomatis menjadi batas minimal baru.
Itulah hubungan yang perlu dipahami sebelum menganggarkan pemasukan. Artikel ketujuh seri SBN Reviewgan ini memakai simulasi sederhana, lalu menunjukkan letak aturan penyesuaian pada contoh dokumen SBR.
Tiga unsur: acuan, spread, dan floor
- Acuan: tingkat suku bunga yang menjadi rujukan formula produk pada waktu penyesuaian.
- Spread: tambahan terhadap acuan yang ditetapkan menurut ketentuan seri.
- Floor: tingkat minimal yang digunakan ketika hasil formula lebih rendah.
Cara membacanya: hitung acuan ditambah spread, lalu bandingkan dengan floor. Pilih angka yang lebih besar sesuai aturan produk. Secara ringkas, kupon berlaku = nilai yang lebih tinggi antara acuan + spread dan floor.
Penjelasan karakter instrumen mengacu pada materi penerbit. Pada sukuk, istilah yang digunakan juga mencakup imbalan. Contoh mekanisme tersebut tersedia pada penjelasan penerbitan ST016 dari DJPPR. Angka acuan, spread, dan batas suatu seri tetap harus dibaca tersendiri.

Simulasi paling sederhana: floor 6%
Gunakan produk rekaan dengan spread satu poin persentase dan floor 6% per tahun. Seluruh angka acuan pada tabel adalah asumsi, bukan BI Rate aktual atau perkiraan kebijakan mendatang.
| Acuan asumsi | Ditambah spread 1 poin | Floor | Tingkat yang dipakai |
|---|---|---|---|
| 4% | 5% | 6% | 6% |
| 5% | 6% | 6% | 6% |
| 6% | 7% | 6% | 7% |
| 5,5% | 6,5% | 6% | 6,5% |
Pada baris pertama, hasil penjumlahan 5% lebih kecil dari floor, sehingga yang digunakan 6%. Pada baris ketiga, hasil 7% lebih besar dari floor, sehingga tingkatnya menjadi 7%. Floor berfungsi sebagai batas bawah, sementara hasil formula menentukan apakah tingkat berada di atas batas itu.
Mengapa kupon dapat turun setelah pernah naik?
Bayangkan tiga periode penyesuaian dalam simulasi tadi. Periode pertama memakai 6%, periode kedua naik menjadi 7%, dan periode ketiga memakai 6,5%. Penurunan dari 7% ke 6,5% masih berada di atas floor 6%.
Jika hasil formula pada periode berikutnya hanya 5%, yang dipakai tetap 6%. Perhatikan urutannya: dari 7% dapat turun ke 6,5%, lalu ke 6%. Ketentuan batas bawah tidak sama dengan janji bahwa tingkat tidak pernah turun dari angka periode sebelumnya.
Dalam menyusun anggaran, bedakan pemasukan yang dihitung pada tingkat minimal dari tambahan yang mungkin diperoleh saat tingkat lebih tinggi. Tambahan itu dapat berubah lagi pada penyesuaian berikutnya, sehingga jangan langsung memperlakukannya sebagai pemasukan tetap sepanjang tenor.
Spread 100 bps berarti berapa?
Bps adalah singkatan dari basis points atau basis poin. Seratus basis poin sama dengan satu poin persentase. Lima puluh basis poin sama dengan 0,50 poin persentase. Tambahan ini dijumlahkan pada tingkat acuan sesuai formula, bukan dikalikan sebagai persentase kecil dari angka acuan.
Contoh: acuan asumsi 5% ditambah 100 bps menghasilkan 6%. Jika seseorang menghitung 1% dari 5% lalu menambahkannya, ia memperoleh angka berbeda karena operasi yang dipakai berbeda. Baca satuan spread sebelum memasukkannya ke kalkulator.
Pada infografis, spread ditulis singkat 1% untuk menunjukkan tambahan satu poin persentase. Dalam dokumen produk, perhatikan apakah ditulis dalam persen, poin persentase, atau basis poin; samakan satuannya saat menghitung.
Pembayaran bulanan tidak sama dengan penyesuaian bulanan
Contoh memorandum SBR015T4 menetapkan penyesuaian setiap tiga bulan, dengan periode baru mulai 11 Januari, 11 April, 11 Juli, dan 11 Oktober. Acuan ditentukan tiga hari kerja pemerintah sebelum periode baru sesuai dokumen. Pembayaran hasilnya tetap memiliki jadwal bulanan. Memorandum SBR015T4, bagian kupon.
Artinya, ketika melihat pengumuman perubahan suku bunga acuan, cari dulu periode kupon yang sedang berjalan. Jangan langsung mengubah perkiraan transfer berikutnya tanpa memeriksa kapan penyesuaian seri mulai berlaku. Gunakan tingkat yang diumumkan untuk periode yang benar.
Kalender kupon pertama juga perlu dibaca terpisah. Nominal pembayaran perdana dapat berbeda karena panjang periode, meskipun tingkat tahunan belum berubah. Lihat penjelasan short dan long coupon untuk membedakan kedua penyebab tersebut.
Contoh aktual berbeda dari simulasi floor 6%
Dokumen SBR015T4 mencantumkan floor 6,85% dan spread 110 bps atau 1,10 poin persentase. Tingkat awalnya 6,85% berasal dari acuan 5,75% pada saat penetapan ditambah spread. Ini data penetapan dalam dokumen, bukan pernyataan bahwa BI Rate sekarang pasti 5,75%.
Jangan memindahkan floor 6% dari tabel latihan ke produk tersebut. Begitu pula angka T4 tidak otomatis menjadi ketentuan T2 atau ST. Cara menghitungnya dapat serupa, tetapi masukan serta kalender tetap mengikuti seri yang dipilih.
Ringkasan perbedaan jenis instrumen tersedia pada perbandingan ORI, SR, SBR, dan ST. Gunakan ringkasan untuk mengenali jenis, kemudian buka dokumen produk untuk angka yang akan dihitung.
Bagaimana perubahan tingkat memengaruhi rupiah yang diterima?
Dalam estimasi aritmetika nominal Rp10 juta, tingkat 6% menghasilkan Rp50 ribu kotor per bulan penuh. Pada 7%, hasilnya sekitar Rp58.333,33. Selisih kotor sekitar Rp8.333,33 per bulan. Angka ini sebelum pembulatan per unit, pajak, dan biaya.
Dengan asumsi pajak kupon 10%, estimasi selisih setelah pajak menjadi sekitar Rp7.500 per bulan sebelum biaya. Tarif pada konteks wajib pajak dalam negeri dirujuk dari PP Nomor 91 Tahun 2021 melalui DJP. Pembayaran nyata mengikuti mekanisme pembulatan serta ketentuan seri.
Perubahan persentase perlu diterjemahkan ke nominal sendiri agar pengaruhnya terlihat. Selisih yang sama dalam poin persentase menghasilkan jumlah rupiah berbeda untuk kepemilikan berbeda. Jika sebagian pokok sudah dilunasi, dasar nominalnya juga perlu diganti.
Checklist membaca kupon mengambang
- Catat nama seri dan tingkat minimalnya.
- Catat spread beserta satuannya.
- Periksa tanggal acuan dan awal periode baru.
- Cari pengumuman tingkat yang berlaku untuk periode tersebut.
- Hitung hasil berdasarkan nominal yang masih dimiliki.
- Pisahkan kupon kotor, pajak, pembulatan, dan biaya.
Jika suatu angka tidak cocok, periksa satu unsur setiap kali. Mengganti acuan, spread, periode, dan nominal sekaligus akan membuat sumber selisih sulit ditemukan. Catatan sederhana yang bisa diulang lebih membantu daripada hanya mengingat persentase tertinggi yang pernah terlihat.
Pertanyaan yang sering muncul
Apakah floor ikut naik ketika kupon naik?
Jangan menganggapnya demikian. Pada contoh dokumen SBR015T4, floor ditetapkan untuk masa produk dan tidak berubah hanya karena hasil formula meningkat pada suatu periode.
Apakah mengambang berarti modal bisa dicairkan sewaktu-waktu?
Tidak. Kata tersebut menjelaskan tingkat kupon. Waktu pokok dapat kembali mengikuti jalur pencairan dan ketentuan produk, yang dibahas pada panduan pencairan SBN.
Seri belajar SBN: 10 artikel yang saling terhubung
- Panduan SBN Ritel untuk Pemula: Dari Membeli sampai Uang Kembali
- Beli SBN Rp10 Juta, Berapa Kupon Bersih per Bulan?
- SBN Bisa Dicairkan Kapan? Pahami Tiga Jalur Uang Kembali
- Early Redemption SBR: Syarat, Jadwal, dan Cara Hitung Pencairan
- ORI, SR, SBR, dan ST: Perbedaan Kupon, Risiko, dan Pencairan
- Mengapa Kupon Pertama SBN Berbeda? Pahami Short dan Long Coupon
- Kupon Floating with Floor: Bisa Naik, Bisa Turun, Ada Batasnya
- Menjual SBN Sebelum Jatuh Tempo: Mengapa Hasilnya Bisa Berbeda dari Modal?
- SBN atau Deposito? Bandingkan Hasil Bersih dan Akses Uangnya
- Sebelum Membeli SBN: Tujuh Pertanyaan tentang Uang yang Akan Dipakai
Sumber dan metode
Diperiksa 20 Oktober 2026. Mekanisme serta contoh aktual mengacu pada memorandum SBR015T4 melalui BCA dan penjelasan ST016 dari DJPPR. Pajak mengacu pada PP 91/2021 melalui DJP. Tabel floor 6%, acuan 4%–6%, dan estimasi rupiah adalah simulasi Reviewgan. Angka acuan simulasi bukan data kebijakan terkini atau prediksi suku bunga.
